Akulah Sungai #1

Senin, 01 Maret 2010
Hidupku akan terus mengalir rendah, sapa ribuan batu-batu kali yang selalu saja buatku takjub betapa mereka tak kenal lelah, yang selalu berdiam diri tanpa terusik gerusan alir sungai, yang selalu berkelana kebawah, makna hidup mereka adalah menjadi sebongkah batu akan selalu hadir disetiap bangunan gedung, plengsengan, tugu, pagar, juga monumen Kebanggaan. Ah para batu hanya tersenyum malu. Sementara alirku tak terhambat hadirmu, malah sejujurnya batu-batu buatku menari meliuk laksana penari salsa, geyol kanan, geyol kiri. Iih.. sedikit genit kadang menggoda pengarum jeram tuk menikmati lekuk indahku. Mereka lah yang sangat mengerti arti kata deras.

Memaknai alir, seperti mengimpikan malaikat pencabut nyawa sudah di depan mata. Mengabsen dengan nota kecilnya mengisyaratkan siapa yang akan diajaknya serta. Bukan sebuah ketakutan yang kurasa, aku malah malu. Seperti anak TK yang belum bisa memakai celana sendiri, hi hi.

Menekuri alir, seperti berdzikir, Subhanalloh walhamdulillah wa Laila ha illallah Allahu Akbar….. Tak ada yang menyendiri selain jiwa kita, tak ada yang terpesona selain iman kita. Amin ya Robbal Alamin.

SapaMu tlah kuterima, dipucuk senja menyala, diantara daun-daun yang mulai berubah warna. Mengelam… seperti tunduk pada Kuasa. Maghrib ku tlah lalui sebuah jembatan bambu …. >>>>

0 komentar:

Posting Komentar