Akulah Sungai #2

Senin, 01 Maret 2010

Jembatan bambu yang tlah mengorbankan hidupnya, buat sebuah makna silaturahim antar desa. Aku harus menunduk dalam ketika melintasinya. Tapi aku tak ingin jadi seperti dia, hanya sekali bermakna, trus mati dimakan usia. Selamat sore temanku..! sapaku. Dia cuek aja….Aku pun berlalu lanjutkan perjalanan.

Isya’ tlah mendera udara, tanpa kusadari bayangan muara berputar-putar di kepala. Tanpa deras arus… tenang… yang akhirnya pada lautanlah akhir seluruh perjalanan… Hmmm alangkah damai. Tanpa harus berusah payah mengikis batu-batu kali.. menggilas padas-padas ganas.. semua akan mudah dalam angan. Pfhuihh…. Menterjemahkan hembus angin malam ini seperti memilah bilah-bilah lontar jaman Majapahit. Rumit… dan asyik. Mereka meratapi diri yang tlah tua.. sejak jaman purba mereka berkelana.. bermilyar hidung dan paru tlah jadi inangnya… berjuta amarah yg jadi bencana, Tapi mereka angin, mereka jiwa udara.

Ahh biarlah…. Mereka tlah temukan makna dalam hidupnya… kuliukkan badan ketika pohon tumbang melintang badan. Mereka para pohon adalah nyawa, dimana segala suka dan duka berasal, dimana akal dan okol terukir dalam. Dari mereka aku dan kawan-kawan menetes deras. Takkan kulupakan meski kau kotori badan.

Rembulan mainkan petak umpetnya diantara rimbun daun….

0 komentar:

Posting Komentar