Akulah Sungai #3 (ending)

Senin, 01 Maret 2010
Aku perkasa diatara celah kecil anak-anak sungai, aku gemilang diatara gemericik tuk (lobang yang biasanya dibuat oleh ketam sawah) yang mengalir kecil didinding padas. Selama ini jarang menunduk… hanya tengadah…. Menyombongkan diri sebagai yang terkuat, paling agung. Paling disegani manusia disepanjang alirku. Semakin kudekati muara, semakin ku tak kuasa tahan laju alirku. Inginku yang sebenar-benarnya adalah ‘aku tak kan pernah sampai ke laut’ hanya berputar melintas alam, merambah lembah, menyibak rimbun hutan. Itu saja!!! Tapi kesadaran kepala tlah mendoktrin bahwa semua perjalanan ada akhirnya, sebuah kenyataan dari eksistensiku sebagai sungai akan lenyap diujung muara.

Merenungkannya saja tlah membelah pikirku menjadi dua kubu bertolak arah. Antara gembira akan kedamaian laut dan duka karena merasa kecil diatara pengelana sungai lainnya. Bagaimana aku harus menyapa mereka yang tlah berubah aroma dan rasa, bagaimana aku harus tengadahkan kepala diatara para penghuni lama. Rasa takut tiba-tiba saja menyeruak tak tentu arah… Inginku kembali ke hulu, tapi harus lewat mana? Dengan kekuatan apa?.
Semakin dekat jarak muara, semakin hebat kecamuk ini mendera. Habis tenagaku hanya tuk menahan rasa takut, laju arusku menjadi lemah gemulai, tak seperti diriku beberapa ratus kilometer arah hulu. Degup jantung serasa berlomba, rasa takut semakin menggelora.. tapi ahhh… akhirnya diriku kalah oleh keinginan alam. Diujung muara aku terpesona : Inikah lautan? Inikah tempat segala macam sungai berada, inikah akhir dari segalanya? Inikah tempat aku harus mengalah, inikah..?

Sesaat aku sentuh bibir pantai, kecupan pertama kuterima :

“ Selamat datang sahabat, dilaut inilah kita akan bermetamorfosa, dilaut inilah awal kita menjadi asin, dilaut inilah kita akan bergelombang tak hanya diam ikuti arus”

Aku hanya menunduk malu, kubiarkan seluruh badan merasuk lebih dalam, kutemukan berjuta - bahkan tak terhingga - wajah-wajah anggun dengan senyum mengembang. Ya Allah..!! ampunkanlah hamba Mu yang selalu berprasangka.

2 komentar:

Tri Lestiyono dan Yeti Kartikasari mengatakan...

Laut....Ombak, pasir, karang,laut biru; Seperti serenada. Kami mencintainya, sungguh!

Bambang Pinuji mengatakan...

Kadang ekspektasi kita tentang hidup, tak seindah dan tak seramah seperti yg kita bayangkan. Pun tak selamanya yang yang kita bayangkan adalag benar adanya... Thanks

Posting Komentar